Berharap ketenangan dan khusnul khotimah

Berharap ketenangan dan khusnul khotimah

Makam baqi sahabat nabi di madinah

RENUNGAN DI PENGHUJUNG UMUR

Yang merasa semakin tua, akan sadar bahwa dengan bertambahnya umurnya dia semestinya semakin merasa sangat perlu segera bertaubat, dan bersiap-siap untuk menghadapi hari akhirat.

Yang merasa semakin tua, semestinya sudah tidak berkeinginan lagi berbenturan dengan siapapun… bertengkar dengan siapapun… atau berfikir akan membalas dendam… atau sibuk mengkritisi itu dan mengoreksi ini.

Semestinya dia semakin yakin, bahwa dia sangat perlu ketenangan… berupaya menemukan jati dirinya sebagai hamba yang sangat perlu menggapai ridha Rabbnya.
Yang dia cari semestinya adalah bagaimana mentaati Rabbnya… menjaga kesehatannya dalam komunikasi damai, jauh dari provokasi dan informasi jungkir balik.

Dia semesatinya berusaha menjaga silaturrahim… menjaga ukhuwwah, sebesar apapun perbedaan disekitarnya.
Berupaya menjaga yang masih tersisa dari ikatan persahabatan yang mulai terurai tercera-berai.
Berusaha tetap bersama dengan yang hatinya masih bersih… yang niatnya masih tulus… bertemu dan berkumpul dengan mereka dari waktu kewaktu walau berbeda umur dan status sosial… bersama berusaha mewujudkan arti cinta karena Allah, bersahabat di jalan Allah… dengan tetap menghargai pertemanan, persahabatan yang memang sangat ditekankan dalam syariat Islam.

Sebenarnya dambaan dan harapan yang paling besar oleh orang yang berakal, yang takut akan Rabbnya, yang berorientasi akhirat, yang khawatir akan perubahan dan goncangan zaman… bahwa dia mendapatkan ketenangan hidup di waktu yang tersisa dari umurnya… jauh dari lumpur perseteruan dan sakit hati yang tak berkesudahan.
Karena hakikatnya, betapa singkatnya hidup ini dan betapa cepatnya ia berlalu.

Sepertinya… orang yang hanya senantiasa berfikir bagaimana mengkritisi ini dan mengoreksi itu… menyalahkan ini dan memusuhi itu… memutuskan hubungan dengan ini dan mentahdzir itu… sepertinya, dia tidak akan tenang dan tidak akan tentram.
Karena pastinya tidak akan tenang orang penuh dengan kedengkian… akan jauh dari taufik orang yang emosional dan cepat marah… dan tidak akan bahagia orang yang memutuskan silaturrahim dan persahabatan.

Diumur seperti sekarang ini saya semakin yakin, bahwa asas ketenangan dan kebahagiaan adalah berusaha tidak peduli dan bermasa-bodoh dengan apa kata orang, apa sikap orang, apa komentar orang… dan membuka pintu maaf yang seluas-luasnya, jika keterlampaun masih berkaitan dengan diri ini.

اللهم اهدنا لأحسن الاخلاق، وارزقنا الهدوء وسلامة الصدر، واغفر لنا ولأهلينا ومن له حق علينا، ولاتجعل في قلوبنا غلا لاهلينا خاصة وللذين آمنوا عامة.
اللهم آمين.

Ustadz AAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *