Renungan perayaan tahun baru 2019

Setelah 100 tahun dari sekarang (2018)

Makam baqi sahabat nabi di madinah

Kita semua, karabat-karabat kita, sahabat-sahabat kita akan berada di bawah tanah, tempat pertama dalam perjalanan ke bahagia abadi atau menderita abdi…
Ini pasti, jelas dan nyata bagi kita semua.

Saat itu, rumah kita akan di tempati oleh orang lain, mereka akan menggantikan melaksanakan pekerjaan kita dan harta kita akan berpindah kepemilikan kepada orang lain yang bisa saja mereka tidak pernah mengingat sedikitpun tentang kita.
Siapa di antara kita saat ini yang ayah dari kakeknya ada dalam ingatannya?.

Saat itu, kita hanyalah satu oretan dalam ingatan sebahagian orang… adapun nama kita, bentuk kita akan dibalut oleh lupa dan tidak ada siapapun yang mengingat kita.

Lalu kenapa terlalu berpikir panjang tentang bagaimana sikap orang terhadap kita, akan seperti apa harta kita, rumah kita, keluarga kita… padahal semua itu tidak ada gunanya, tidak ada manfaatnya bagi kita setelah 100 tahun.?

Wujud kita sesungguhnya hanyalah bagaikan kilat berbanding dengan umur alam ini… umur kita akan habis dan kita akan tinggalkan wujud ini dalam sekejap mata.

Setelah itu akan datang generasi demi generasi… setiap generasi akan meninggalakan dunia ini dengan cepat dan menyerahkan bendera kehidupan kepada generasi berikutnya, sebelum dia dapat menggapai walau seper-empat dari keinginan dan cita-citanya

Oleh karena itu, َmari kita kenali hakikat ukuran kita di dunia ini dan hakikat waktu keberadaan kita di alam ini yang ternyata jauh lebih kecil dari yang kita bayangkan.

Disana, setelah 100 tahun ditengah kegelapan dan kesendirian di alam barzakh… saat itu, baru kita mengerti betapa dunia ini ternyata tidak berarti apa-apa… betapa kecenderungan kita menumpuk dunia, ternyata hanyalah kebodohan… saat itu, baru kita berharap andaikan umur kita di dunia semuanya kita habiskan untuk perkara-perkara yang bermanfaat, kita gunakan untuk mengumpulkan kebaikan-kebaikan dan membuat shadaqah jaariyah.

Saat itu, sebahagian kita akan berteriak meminta tolong yang sudah tidak ada gunanya…
Seperti yang di firmankan Allah dalam al-Qur’an :

… قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ, لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
… dia berkata, “wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan… Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada kehidupan barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”
(Al-Mu’min un : 99-100).

juga seperti firman Allah :

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
Dia berkata, “alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk kehidupanku saat ini.”
(Al-Fajar : 24)

Saudaraku dan diriku ;
SELAMA MASIH ADA UMUR YANG TERSISA, MARI KITA BERUBAH.

pesan dari Ustadz Amiruddin Abdullah Rasul

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *