mengenal metode Risk Based Inspection (RBI)

Apakah pengertian Risk Based Inspection (RBI)?

Risk Based Inspection adalah metode penetuan inspeksi berdasarkan resiko. Metode ini melengkapi metode inspeksi lainnya yaitu fixed interval inspection ataupun half-remaining life inspection.

1. apa itu risk based inspection
2. apa aplikasi di lapangan untuk risk based inspection
3. apakah ada kursus/training untuk risk based inspection ini dan bagaimana
cara nya?
4. lembaga mana saja yang mengadakan risk based inspection di indonesia?

Menurut API Recommended Practice 580 (API 580), Risk-Based Inspection adalah Risk assessment dan managemen proses yang terfokus pada kegagalan peralatan karena kerusakan material. Dengan RBI, bisa dibuat inspection program berdasarkan risk yang terjadi. Sehingga Risk Based Inspection (RBI) adalah metode untuk menentukan rencana inspeksi (equipment mana saja yang perlu diinspeksi, kapan diinspeksi, dan metode inspeksi apa yang sesuai) berdasarkan resiko kegagalan suatu peralatan.

Risk Based Inspection

Bagaimana mengukur resiko suatu equipment dengan metode RBI

Menurut konsep RBI, Resiko (Risk) = PoF x CoF.
PoF (Probability of failure) adalah kemungkinan terjadinya kegagalan pada suatu periode tertentu. CoF (consequence of failure) adalah konsekuensi apabila suatu equipment gagal. CoF ada 4 macam yaitu: konsekuensi safety (jumlah personel yang cedera/meninggal), ekonomi (jumlah uang yang hilang akibat berhentinya produski), lingkungan (polutan yang mencemari lingkungan), dan Heath atau sakit yang di akibatkan oleh kegagalan equipment.

Tahap I dari RBI disebut screening atau qualitative RBI. Tujuannya untuk memilah-milah equipment mana saja yang diprioritaskan untuk diinspeksi. Dalam tahap ini, PoF dan CoF dinyatakan secara kualitatif yaitu rendah dan tinggi.

PoF rendah x CoF rendah = Risk rendah, maka pada equipment dengan risk ini
cocok diterapkan corrective maintenance.
PoF tinggi x CoF rendah = Risk menengah, maka cocok diterapkan corrective maintenance.
PoF rendah x CoF tinggi = Risk menengah, maka cocok diterapkan preventive maintenance.
PoF tinggi x CoF tinggi = Risk tinggi, maka harus dilakukan analisis detail untuk menentukan
rencana inspeksi atau mitigation action. Equipment dengan Risk tinggi ini dibawa ke tahap II untuk detailed analysis.

Dalam tahap II ini dilakukan evaluasi PoF dan CoF secara detil, kemudian dapat ditentukan kapan waktu tercapainya Limit Risk sebagai dasar penentuan waktu inspeksi. Selain itu, juga ditentukan metode inspeksi yang sesuai.misalkan apakah perlu di lakukan ultrasonic pipeline inspection sedehrana seperti UTM secara random ataukah hanya visual inspection atau perlu inspeksi secara detail menggunakan ILI. Analisa RBI secara detail menggunakan metode quantitativ sesuai dengan API 581.

Adapun equipment dengan risk rendah dan menengah tetap diperhatikan (tidak boleh dilupakan). Pada equipment tersebut, monitoring perlu dilakukan untuk meyakinkan bahwa risk-nya tidak menjadi tinggi. Misalkan pipa yang memiliki coating baru. Pada kondisi sekarang, pipa ini memiliki PoF rendah karena coating-nya baru. Katakanlah pipa ini memiliki konsekuensi ekonomi yang besar,jadi CoF-nya tinggi. PoF rendah x CoF tinggi = Risk menengah. Umumnya, area yang dapat di-cover oleh coating akan turun seiring umur coating (biasanya lebih dari 5 tahun). Jika area yang di-cover coating ini turun maka PoF-nya menjadi naik sehingga Risk menjadi tinggi. Jika Risk-nya tinggi maka perlu dilakukan RBI Tahap II Detailed Analysis.

Analisa RBI biasanya dijalankan dalam tiga model perhitungan :
1. Perhitungan resiko ‘current’ / pada saat ini / dianalisa;
2. Model perhitungan resiko pada saat mendatang tanpa inspeksi; dan
3. Model perhitungan resiko pada saat mendatang setelah recommended inspeksi
dilaksanakan.

Equipment yang menggunakan metode Risk Based Inspection

Jadi memang ada kemungkinan alat yang memiliki resiko rendah, pada saat mendatang resikonya akan naik karena PoFnya naik akibat penipisan material sesuai dengan asumsi laju korosi. Tapi kalau kita melakukan inspeksi dan ternyata hasil inspeksi tersebut menunjukkan laju korosi aktual sesuai dengan prediksi kita dalam analisa RBI,maka PoF nya akan turun (teori Bayes) sehingga resiko masih dapat kita pertahankan rendah. Umumnya dalam praktek, RBI dipakai untuk static equipment seperti pipa, vessel, dan sebagainya yang berfungsi menampung (membawa) fluida bertekanan. Modus kerusakan yang umum dianalisis adalah korosi, crack, dan fatigue. Untuk rotating equipment, sensor, alarm, dan sebagainya dengan modus kegagalan yang bermacam-macam umumnya dianalisis dengan RCM.

risk based inspection artinya

Adapun aplikasi untuk oil and gas production, refinery, petrochemical dan power plant dan peralatan yang dicakup adalah pressure vessel, process piping, storage tanks, boiler, heater, heat exchanger dan pressure relief devices. Perusahaan yang telah menerapkan RBI sudah banyak. Di Indonesia antara lain adalah PT. Badak, ConocoPhillips, BP West Java, EMP, Total, Vico, PT. Chevron Pacific Indonesia ataupun perusahaan Petrochemical seperti Pupuk Kaltim dll. Konsultan yang bergerak dalam analisa RBI adalah Radiant Utama Interinsco, BKI, RCMS UI dll. Konsultan RBI menggunakan software ataupun aplikasi sederhana dalam melakukan RBI. Kadangkala konsultan hanya menggunakan software macroexcel ataupun VBA untuk melakukan analisa RBI sesuai dengan metode / pendekatan RBI yang mereka lakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *