Filosofi Puasa

 

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif

Puasa adalah ritual klasik yang terdapat pada semua agama wahyu.

Inilah yang disitir dalam firman Allah, “Kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum,” (QS al-Baqarah [2]: 183), sebagaimana diinstruksikan kepada umat-umat para nabi zaman dahulu— yang notabene semuanya beragama Islam jua.

Bagaimana persisnya cara mereka berpuasa hanya dapat diduga-duga, mungkin begini dan mungkin begitu, namun sukar untuk dipastikan seperti apa praktiknya.

Yang jelas, syariat Nabi Muhammad SAW sebagai syariat paling mutakhir telah menganulir sekaligus mengintrodusir bentuk final tata tertib puasa bagi kaum beriman (alladzina amanu) seperti Anda.

Artinya, cara berpuasa yang tidak sejalan atau berbeda dengan regulasi yang ditetapkan dalam syariat Islam (yakni preskripsi Alquran dan tradisi Rasulullah) dianggap nihil.

Ditilik dari sudut semantik, lafaz ‘shiyām’ yang dipakai al-Qur’an untuk ‘puasa’ asalnya mengandung arti bertahan atau menahan diri, dari kata kerja refleksif shāma-yashūmu.

Namun, dalam konteks syariat Islam, puasa (shiyām) yang dimaksud ialah menahan diri dari makan-minum dan kegiatan seksual sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat ibadah kepada Allah tentunya.

Khusus di bulan suci Ramadhan, puasa merupakan kemestian perorangan (fardhu ‘ayn) setiap individu yang berakal dan tumbuh dewasa dengan beberapa pengecualian yang diuraikan detailnya dalam buku-buku fikih.

Di luar bulan suci Ramadhan, kaum Muslim juga dibolehkan dan dianjurkan berpuasa secara sukarela (tathawwu‘) berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW di samping puasa denda dan kompensasi (qadhā’) sesuai dengan aturan yang berlaku.

Multifungsi Puasa

Seperti halnya yang lain, puasa adalah ibadah multifungsi dan multidimensi. Ada 5 fungsi dan 3 dimensi puasa bagi orang Islam.

Fungsi pertama boleh kita namakan fungsi konfirmatif. Jangan mengaku orang Islam dan beriman kalau tidak puasa pada bulan suci Ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan.
Berpuasa merupakan bukti pengukuh keislaman dan keimanan Anda.

Kedua, fungsi purifikatif. Orang yang berpuasa sesungguhnya menyucikan dirinya. Puasa adalah instrumen pembersih kotoran-kotoran jiwa seperti halnya shalat.

Orang yang berpuasa tidak hanya menolak yang haram dan menjauhi yang belum tentu halal dan belum tentu haram.

Jangankan yang syubhat dan yang haram sedangkan yang jelas halal pun tak dijamahnya.

Puasa berfungsi mematahkan dua syahwat sekaligus, yakni syahwat perut dan syahwat kemaluan. Demikian kata Imam ar-Razi dalam kitab tafsirnya (Mafatih al-Ghaib, cetakan Darul Fikr Lebanon 1426/2005, juz 4, jilid 2, hlm 68).

Syah Waliyyullah ad-Dihlawi menambahkan, puasa itu ibarat “tiryāq” penawar bagi racun-racun setan, semacam “detoksifikasi spiritual”.

Dengan puasa, Anda memukul naluri kebinatangan (al-bahimiyyah) yang mungkin selama ini menguasai diri Anda.

Puasa sejati melumpuhkan setan dan membuka gerbang malakut (Hujjatullah al-Balighah, cetakan Kairo 1355 H, juz 1, hlm 48-50).

Itulah sebabnya mengapa dalam suatu riwayat disebutkan bahwa mereka yang berhasil menamatkan puasa sebulan Ramadhan disertai iman dan pengharapan bakal dihapus dosa-dosanya sehingga kembali suci fitri bagaikan bayi baru dilahirkan dari rahim ibunya.

Ketiga, fungsi iluminatif. Para awliya’ dan orang-orang saleh diketahui amat suka berpuasa karena seperti dituturkan oleh Syekh Abdul Wahhab as-Sya‘rani dalam kitabnya, mereka justru memperoleh pencerahan batin (ghayat an-nuraniyyah) dan peneguhan rohani serta berbagai kebajikan yang berlimpah tatkala mereka berpuasa (Tanbih al-Mughtarrin, cetakan Damaskus, hlm 55).

Hal itu karena puasa menaikkan status mereka ke derajat malaikat yang penuh taat dan hampa maksiat. Hasilnya, semakin dekat mereka kepada Allah, sumber hakiki segala ilmu, dan hikmah manusia.

Puasa juga menjernihkan ruang komunikasi spiritual antara alam nasut dengan alam malakut. Pada saat berpuasa, sinyal-sinyal makrifat akan lebih jelas, mudah, dan banyak dapat ditangkap.

Keempat, fungsi preservatif. Selain menyucikan jiwa dan mencerahkan nurani, ibadah puasa juga berdampak positif terhadap kesehatan tubuh kita.

Sebuah hadis yang disandarkan kepada Rasulullah menyatakan, “Berpuasalah, niscaya kamu sehat” (shūmū, tashihhū), riwayat Imam at-Thabarānī dari Abi Hurayrah RA dan Ibn ‘Adiyy dari Sayyidina ‘Ali dan Ibn ‘Abbas RA.

Meskipun jalur transmisi hadis ini masih diperdebatkan, kebenaran muatan atau isinya sudah banyak dibuktikan secara medis. Kalau kita makan tiga kali sehari maka rata-rata tiap delapan jam lambung kita mendapat tugas baru.

Padahal, makanan ditampung dan dicerna oleh lambung selama empat jam, diolah sampai diserap oleh usus selama empat jam. Ini berarti perut kita terus-menerus bekerja tanpa istirahat sama sekali.

Nah, puasa memberikan interval waktu bagi organ-organ pencernaan tersebut untuk merenovasi sel-sel yang rusak dan memberikan kesempatan energi tubuh memenuhi kebutuhan organ-organ lainnya.

Benarlah sabda Rasulullah, “Segala sesuatu ada zakatnya. Zakatnya tubuh adalah puasa (likulli syay’in zakah, wa zakatul jasad as-shawmu),” hadis riwayat Imam Ibn Majah dari Abi Hurairah ra (No 1745).

Bukankah zakat itu makna dasarnya bersih dan tumbuh sehingga puasa berarti tazkiyatun nafs plus tazkiyatul jasad?

Penelitian mutakhir Hari Basuki dan Dwi Prijatmoko (2005) dari FKG Universitas Jember menyimpulkan bahwa puasa selama Ramadhan dapat menurunkan risiko kardiovaskuler melalui perubahan komposisi tubuh, tekanan darah, dan plasma kolesterol.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari puasa walaupun pada musim panas yang waktu siangnya lebih panjang dari dari waktu malam, seperti di Eropa atau di Australia.

Sebagaimana ditegaskan A. J. Carlson, Profesor Fisiologi di Universitas Chicago Amerika Serikat, seorang manusia normal yang sehat bisa bertahan hidup 50 hingga 75 hari tanpa makanan, asalkan tidak terkena unsur-unsur toksik dan atau tekanan emosi. Cadangan lemak dalam tubuh manusia diyakini lebih dari cukup untuk memberinya tenaga untuk bekerja selama beberapa minggu.

Kelima, di atas itu semua, puasa berfungsi mengubah. Ya, puasa merupakan ibadah transformatif.

Puasa seperti disyariatkan oleh agama dapat mengubah diri anda menjadi orang bertaqwa: La‘allakum tattaqûn, firman Allah dalam kitab suci al-Qur’an (2:183).

Kalau latihan militer bisa mengubah seseorang yang
asalnya lemah lembut lagi penuh kasih sayang menjadi keras dan bengis tak mengenal belas kasihan, maka latihan Ramadhan dapat mengubah seseorang yang tadinya fasiq (banyak melanggar hukum Allah) atau munafiq menjadi shaleh dan bertaqwa kepada Allah.

Hal ini cukup logis kalau kita ingat bahwa puasa itu merupakan ibadah rahasia, bukan ibadah publik yang dapat disaksikan oleh orang lain seperti halnya sholat, zakat dan haji. Hanya Allah dan kita sendiri sebagai pelakunya yang mengetahui apakah kita berpuasa ataukah tidak.

Dampak transformatif puasa juga terkait dengan kecerdasan emosi.

Daniel J. Goleman (1995) mengutip penelitian seorang psikolog terhadap sejumlah anak-anak TK usia 4 tahun. Anak-anak ini dipanggil satu per satu oleh guru mereka ke dalam sebuah ruangan dan disuguhkan sepotong kue lezat di atas meja.

Sang guru berkata: “Bu Guru akan keluar sebentar dan kamu
boleh makan kue ini, tetapi kalau kamu tunggu beberapa menit sampai Bu Guru datang, kamu akan dapat dua (ditambah
sepotong lagi).”

Empat belas tahun kemudian, setamatnya mereka dari sekolah menengah, anak-anak yang dulunya langsung makan kue tersebut ditemukan rendah prestasinya, labil emosinya, cenderung suka bertengkar, dan sulit mencapai target yang dikehendaki.

Sementara mereka yang sabar menunggu sampai Bu Guru datang dan karena itu mendapat imbalan dua potong kue, ditemukan lebih baik prestasinya, mempunyai emosi yang stabil, lebih berdikari, dan mampu mengendalikan diri dalam keadaan tertekan sekalipun.

Begitu pula orang seperti Imam as-Syafi‘i dan para ilmuwan hebat lainnya sukses dalam kariernya berkat banyak puasa.

Multidimensi Puasa

Dalam salah satu kitabnya yang terkenal, Imam al-Ghazali menguraikan beberapa dimensi puasa yang baik diketahui jika kita menghendaki hasil optimal sebagaimana tersebut di atas dan bukan sekadar hasil minimal, yaitu gugurnya kewajiban dan tetapnya identitas diri sebagai mukmin Muslim.

Menurutnya, ada tiga dimensi puasa. Pertama, dimensi eksoteris di mana Anda menahan diri dari makan-minum dan kegiatan seksual. Beliau menyebutnya shaum al-bathn wa al-farj. Dimensi ini penting karena menjadi syarat minimal puasa.

Kedua, dimensi semi-esoteris di mana seseorang itu tidak hanya berpuasa perut dan kemaluannya, tetapi juga panca indra dan anggota badan lainnya. Yakni, apabila ia mengunci penglihatan, pendengaran, dan kaki tangannya dari segala yang haram dan syubhat. Imam al-Ghazali mengistilahkannya shaum al-jawarih.

Yang ketiga adalah dimensi esoteris di mana Anda berpuasa total, mencekik syahwat badaniah, dan syahwat batiniah sekaligus.

Namanya shaum al-qalb, yaitu apa bila hati dan akal pikiran pun berpuasa dari pelbagai keinginan, kerinduan, dan harapan kepada sesuatu dan sesiapa jua, melainkan Allah. Menurut Imam al-Ghazali, seyogianya puasa kita merangkum tiga dimensi tersebut. (Lihat: Ihya Ulumuddin, juz 3, hlm 428-430).

* Pernah dimuat di Republika (24/06/14). Penulis adalah dosen di Program Pascasarjana UNIDA Gontor Ponorogo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *